Melacak
Sejarah dan Komposisi Alam Semesta
Ada dua
cabang ilmu dasar yang mempelajari alam semesta, yaitu astronomi dan kosmologi.
Astronomi mempelajari benda-benda angkasa di luar Bumi dan merupakan salah satu
ilmu tertua dalam peradaban manusia. Kosmologi kemudian lahir sebagai ilmu yang
mempelajari asal-muasal, komposisi, dan perkembangan alam semesta.
Tidaklah
sulit untuk mencari objek astronomi. Dua contoh yang paling dekat adalah
matahari dan bulan.
Tidak
perlu instrumen canggih untuk mencari benda-benda angkasa hanya sekadar untuk
memulai belajar astronomi. Ada dua contoh objek kosmologi yang paling dekat
dengan kehidupan kita. Pertama adalah kegelapan di malam hari, kedua adalah
siaran “semut” yang muncul saat pergantian satu channel ke channel lain di
pesawat televisi kita. Sekira satu persen dari “semut” yang kita lihat tersebut
(Gambar 1) berasal dari Cosmic Microwave Background (CMB/Latar Kosmik Gelombang
Radio).
Malam
yang gelap
Fenomena
malam gelap terlihat sederhana, namun penjelasannya tidaklah begitu sederhana.
Kosmologi menganut prinsip bahwa alam semesta dalam skala besar bersifat
isotropik dan homogen; karena ada lebih dari 400 miliar (1 miliar = 109)
bintang di dalam galaksi kita. Karena ‘dikepung’ oleh bintang-bintang, maka seharusnya
Bumi kita terang-benderang baik siang atau malam. Paradoks ini disebut Paradoks
Olber (Heinrich Olber, Astronom Jerman, 1758 – 1840).
Salah
satu solusi paradoks ini adalah menyaratkan alam semesta memiliki umur tertentu
dan mengembang.
Inilah
dua karakter alam semesta yang penting dalam ilmu kosmologi. Jadi, malam hari
yang gelap adalah satu dari dua contoh objek kosmologi yang paling dekat dengan
kehidupan kita.
”Cosmic
Microwave Background” CMB adalah radiasi elektromagnetik dengan frekuensi pada
daerah gelombang radio. CMB pertama kali terdeteksi secara tidak sengaja oleh
Arno Penzias dan Robert Wilson pada tahun 1965 (Gambar 2), yang sedang
melakukan riset untuk memperbaiki transmisi data komunikasi untuk kepentingan
industri. Mereka mendapat kesulitan untuk menghilangkan gelombang gangguan
(noise) pada daerah gelombang radio yang
diterima antena mereka dari segala arah. Segala cara sudah dilakukan, termasuk
mengusir burungburung yang bersarang di bagian dalam antena dan membersihkan
dari kotorannya.
Gangguan
ini ternyata adalah CMB, yang sebelumnya sudah diprediksi oleh George Gamow (1904-1968),
pada tahun 1946 sebagai salah satu konsekuensi dari Teori Dentuman Besar
(Bigbang Theory). Teori ini menjelaskan kejadian awal alam semesta yang
merupakan sebuah titik kecil masif tanpa dimensi dan kemudian meledak sehingga
kemudian terciptalah dimensi ruang-waktu, radiasi, dan materi (Gambar 3). Sisa-sisa
radiasi yang terjadi saat dentuman itu seharusnya masih ada sampai sekarang
dalam bentuk gelombang radio. Penzias dan Wilson mendapatkan Nobel pada tahun 1978
atas pembuktian eksistensi radiasi ini. CMB, pembuka jalan.
Seperti
halnya cahaya tampak (pada panjang gelombang 380 nanometer – 780 nanometer),
CMB juga terdiri dari partikel cahaya (foton), tapi pada panjang gelombang
radio (sekira 1 milimeter sampai dengan 10 milimeter). Foton-foton CMB ini
mengisi penuh alam semesta kita dengan kerapatan 400 per cm3—kirakira ada 400
foton CMB menembus ujung ibu jari kita setiap saat. Jadi, dari satu sisi,
Olbert benar bahwa seharusnya Bumi kita dihujani cahaya dari segala arah,
sayangnya cahaya itu bukanlah cahaya tampak.
Satelit
COBE (Cosmic Background Explorer) yang diluncurkan pada tahun 1989 mengukur
temperatur CMB saat ini 2,725 +/- 0,002 derajat K (disebut juga temperatur alam
semesta) dan membuktikan bahwa radiasi CMB mengikuti hukum Radiasi Kotak Hitam
(Blackbody Radiation). Selain mengukur temperatur, satelit COBE juga “memotret”
CMB dan menemukan fluktuasi kecil temperatur pada CMB (anisotropi CMB).
Fluktuasi
ini kemudian dipelajari sebagai indikasi bagaimana materi dan radiasi
terdistribusi saat alam semesta masih sangat muda. Pemahaman ini adalah kunci
untuk memahami bagaimana galaksi dan struktur berskala besar pengisi alam
semesta kita terbentuk.
COBE
kemudian dilanjutkan oleh satelit WMAP (Wilkinson Microwave Anisotropy Probe)
untuk
mendapatkan
fluktuasi CMB dengan akurasi lebih tinggi (Gambar 4). Satelit ini diluncurkan
pada tahun 2001 dan memberikan hasil lebih mengejutkan daripada COBE. Salah
satunya adalah perhitungan kandungan alam semesta yang terdiri dari komposisi 4
persen dari materi dan radiasi yang kita kenal, 22 persen dari materi tak
dikenal (disebut dark matter), dan 74 persen dari energi yang misterius
(disebut dark energy).
”Dark
matter” &”dark energy”
Dark
matter terdeteksi dari ketidakcocokan antara perhitungan per putaran galaksi
Bima Sakti dan pengamatan langsung kecepatan galaksi. Dari pengetahuan kita
tentang sifat fisik galaksi Bima Sakti kita bisa menghitung kecepatan
perputaran galaksi. Namun, pengamatan menunjukkan hasil lain yang menandakan
bahwa ada massa yang tidak teridentifikasikan dalam galaksi Bima Sakti. Massa
yang tidak teridentifikasikan inilah yang dinamai dark matter.
Berbeda
dengan lubang hitam (black hole), dark matter tidak memancarkan atau
memantulkan radiasi. Ini membuat astronom kesulitan untuk mendeteksinya. Selain
dari pengamatan kecepatan galaksi, dark matter bisa dideteksi dari pengaruh
gaya gravitasi yang dipancarkannya. Satelit WMAP menyatakan 22 persen alam semesta
terdiri dari dark matter.
Sementara
dark energy adalah energi yang melawan gaya gravitasi – disebut juga
anti-gravitasi. Energi ini sudah diprediksi oleh teori Relativitas Umum
Einstein, energi inilah yang menyebabkan alam semesta sedang mengembang dengan
percepatan tertentu, mengalahkan gaya gravitasi, seperti saat ini. Alam semesta
mengembang dengan percepatan tertentu telah dibuktikan oleh Edwin Hubble
(1889-1953), astronom Amerika Serikat, pada tahun 1929. Dan satelit WMAP mendeteksi
74 persen komposisi alam semesta adalah dark energy. Beberapa eksperimen
berteknologi canggih dan beragam metode sedang dirancang untuk melacak lebih
akurat mengenai eksistensi dark matter dan dark energy.
Sementara
itu, materi yang terbuat dari atom-atom, atom-atom yang tersusun dari
proton-neutronelektron, dan proton-neutron yang terbuat dari quark, serta
radiasi sebagai manifesto cahaya hanyalah mengisi 4 persen dari alam semesta
kita. Dengan kata lain, ilmu fisika kita yang sudah kita anggap mapan hanyalah
sanggup untuk menjelaskan 4 persen dari alam semesta kita – dan itu pun belum
sempurna karena masih banyak hal-hal yang belum sempurna terjelaskan dari
interaksi materi dan radiasi. Baik dark matter maupun dark energy adalah
tambahan misteri di dunia sains kita. Febdian Rusydi Alumni Fisika Teknik ITB,
Mahasiswa S-3 di grup Fisika Astropartikel KVI, Rijk suniversiteit Groningen,
Belanda.
( Sumber : fisika.net
oleh Febdian Rusydi)
.jpg)
Posting Komentar